Breaking News
Loading...
Rabu, 27 Juli 2011

Apakah Takdir Bisa Dirubah ??

Disuatu malam yang sunyi, aku sendiri dalam kamar menyimak alunan musik yang merdu, sambil merenungkan apa yang akan ku perbuat keesokan harinya, dan setiap malam ku melakukan hal demikian selama masa libur semester berjalan.
tapi hal tersebut tidak pernah mengurung waktuku tuk bosan melakukan hal yang mempunyai sedikit manfaat, sehingga aku mencoba melakukan hal yang lebih bermanfaat dari pada aktifitasku setiap malam menjelang tidur. aku mencoba tuk melakukan apapun yang dapat bermanfaat pada diriku dan keluargaku kelak, dan pada suatu waktu, tepatnya pada hari rabu malam, tanggal 27 juli 2011, aku mencoba tuk berfikir perihal takdir yang diberikan tuhan pada kita semenjak kita lahir, sebab aku teringat kehidupanku yang kelam dulu.
pada saat itu aku ada dilingkungan pesantren yang tidak jauh dari kediamanku, dan saat itu aku sering kali menyalahkan takdir tuhan yang selalu memberikanku cobaan, dan pada saat itu pula aku berusaha menemukan jawaban, tapi pada saat itu aku masih kecil dan tidak tahu apa-apa mengenai takdir tuhan, sehingga aku mencoba untuk menanyakan takdir pada guruku, aku bertanya, apakah takdir itu memang dari tuhan, atau takdir itu dari kita ?? kalo takdir itu dari tuhan, kenapa tuhan mengambil semua milikku, kan tuhan itu bersifat al-Rahman dan al-Rahim, yang mana tuhan tidak akan menjerumuskan hambanya, atau jika takdir itu milik kita / dari kita, kenapa kita mencobat sekeras mungkin tuk mengubah takdir, tapi tidak bisa ??
guruku menjawab, bahwa takdir itu dibagi menjadi dua komponen, yaitu Qadha' dan Qadhar. Qadha' ialah Takdir yang sudah tercatat, tapi belum pernah dilaksanakan, nah disini kita bisa mengubah takdir itu sendiri, adapun Qadhar ialah takdir yang sudah tercatat, dan sudah terjadi pada kehidupan nyata, disini takdir tidak bisa dirubah.
semenjak itulah aku berusaha untuk mengubah takdirku menjadi lebih baik lagi dari sebelumnya, tapi hal tersebut tidak semudah apa yang pernah ku bayangkan waktu kecil dulu, ternyata takdir memang sulit untuk diperbaiki, sebab terlalu banyak cobaan yang kuhadapi, sehigga aku tidak mampu untuk mengubah takdir itu sendiri.

Tapi aku mempunyai persepsi bahwa sampai kapanpun manusia mencari jalannya masing2 tuk memperbaiki takdir, dan tidak jarang dari mereka terlepas dari usaha tersebut, sehingga manjadi orang yang tidak disukai oleh sang khaliq. hal tersebut memberikan suatu inspirasi untuk aku melakukan sebuah tulisan mengenai takdir, dan bersumber pada diri saya sendiri, dan beberapa teman yang pernah bercurhat mengenai nasibnya padaku.

takdir ialah suatu peristiwa yang paling menakutkan dari pada papaun didunia ini, lebih dari sebuah kematian, sebab takdir bukan hanya membunuh manusia secara langsung, tapi ia membunuh manusia dengan perlahan-lahan, jadi jika seseorang tidak dapat mengenadalikan dirinya, maka ia akan dikendalikan oleh emosinya dan mengkambing hitamkan takdir itu, bahkan ia akan mengkambing hitamkan tuhan. begitu berbahayanya takdir jika kita tidak mengetahui titik temu antara takdir yang dapat dirubah dan takdir yang tidak dapat dirubah. bukan hanya itu saja yang akan terjadi pada manusia, jika ia adalah orang yang dapat dipercaya dikalangannya, maka ia akan juga mempengaruhi orang lain yang tidak banyak mengetahuinya. dan hal tersebut akan lebih parah lagi, sebab memberikan orang lain persepsi yang salah.

hal tersebut tidak jarang terjadi disebuah perkampungan yang notabene kalangna menengah kebawah dalam suduk ekonomi. yakni orang yang ekonominya menipis dan tidak dapat melanjutkan untuk mencari ilmu yang lebih tinggi lagi, sebab ekonomi yang tidak memadai menjadi lebih terjerumus lagi dari sebelumnya. coba saja lihat beberapa fakta unik mengenai paradigma orang semacam itu, mereka yang mempunyai intlektual yang rendah dan ekonomi yang minim, berusaha mencari jawaban dalam kehidupannya yang tidak beruntung, kemudia mereka pergi kepada seorang kiai atau seorang guru yang ia akui kebenaran dari segala ucapannya, dari pada orang yang lebih tinggi nilai intlektualnya dari pada kiai tersebut. orang yang semacam ini akan pergi kekiai dan meminta sebuah petunjuk dalam pekerjaannya, dan permasalahan yang ia hadapi, apakah kiai itu dapat menjawab untuk memberi suatu dorongan pada mereka ?? justru sedikit sekali kiai semaacam itu, sebab riset membuktikan bahwa orang yang pergi kekiai dalam masalah semacam itu, akan diberikan sebuah petunjuk untuk sabar, dan berusaha terus, tidak memberikan suatu inisiatif pekerjaan atau hal lain yang akan menguntungkan mereka, bahkan orang tersebut memberikan sedikit uang pada kiai tersebut, padahal tuhan menyuruh kita yang mampu memberi pada orang yang kurang mampu, bukan orang yang kurang mampu memberi pada orang yang mampu.....!!!
nah dalam poin itulah terkadang orang melupakannya, dan menyebutnya dengan adat, atau tatakramah pada seorang ulama, apakah itu benar ?? memang hal tersebut merupakan suatu adat yang tidak dapat dihapus oleh masyarakat, tapi, kiai yang dapat diberikan hadiah ialah kiai yang tidak melakukan apapun kecuali beribadah pada allah, dan hanya itulah rezeki yang diberikan oleh allah swt padanya, tapi bukan pada kiai yang mempunyai banyak harta.....!!!

hal tersebut memberikan suatu persepsi pada masyarakat bahawa jika menjadi kiai maka ia akan menjadi orang kaya, dan menyesali kehidupannya tidak menjadi anak dari seorang kiai yang notabene berdarah biru......!!! nah hal tersebut tidak jarang dilakukan oleh orang yang sangat menipis dalam ekonominya. dan hal tersebut terus berangsur-angsur, semakin banyak anakn kiai yang menikmati hasil jerih payah orang lain dengan mengatas namakan orang tuanya yang menjadi kiai, sehingga anak kiai tersebut menjadi seorang pemalas dalam bentuk apapun, dan berasumsi bahwa meskipun bodoh tetap mempunyai santri yang thaat padanya sebab kebesaran nama ayahnya. nah jika hal tersebut tetap terjadi, dan terus terjadi, maka niscaya dunia keislaman akan sirna dalam dua abad terakhir ini.

jadi terkadang dengan peristiwa yang menimpa, manusia akan menyalahkan takdir yang ia alami, dan secara tidak langsung manusia sendiri meminta keadilan pada allah swt yang menciptakan alam semesta dan menciptakan keadilan itu sendiri.
Posting Lebih Baru
Previous
This is the last post.

1 komentar:

  1. Manusia Yang Menentukan Nasib
    Bukan Nasib Yang Menentukan Manusia

    Takdir Bisa Dirubah, Jika Ia Berusaha Tuk Merubah
    Takdir Tidak Dapat Dirubah, Jika Ia Selalu Pasrah

    BalasHapus

 
Toggle Footer